Pantai-pantai di Malang Selatan menawarkan keindahan yang luar biasa. Kalau Anda pernah ke pantai di Malang Selatan, tentunya Anda akan melewati kawasan pebukitan yang jalannya naik turun dan menikung. Sebelah kanan kirinya terdapat jurang atau lembah yang mayoritas masih berupa hutan belantara.
Menurut penelitian para ahli geologi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dulunya adalah bekas gunung api di dalam laut. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya batuan karang yang rapat dan padat di wilayah Malang Selatan. Batuan karang tersebut merupakan sisa-sisa lautan yang ada di wilayah tersebut jutaan tahun yang lalu.
Tim Ekspedisi Malang Purba menemukan banyak fakta bahwa sebagian kecamatan di Kabupaten Malang awalnya adalah lautan dalam. Beberapa kecamatan yang dulunya adalah lautan di antaranya adalah Bantur, Donomulyo, Pagak, Sumbermanjing Wetan, Ampelgading, Tirtoyudo, Gedangan, dan Dampit.
Proses pembentukan Kabupaten Malang sebagai bekas gunung api di dalam laut dimulai dengan adanya gesekan antara lempeng India dan Australia. Gesekan tersebut menyebabkan pergerakan magma di dalam perut bumi. Magma yang bergerak kemudian keluar ke permukaan bumi dan membentuk gunung api. Gunung-gunung api tersebut kemudian meletus beberapa kali dan akhirnya mati.
Setelah gunung-gunung api tersebut mati, terjadi pengangkatan daratan. Hal ini disebabkan oleh pergerakan lempeng India dan Australia yang terus mendorong daratan ke atas. Pergerakan lempeng tersebut juga menyebabkan pergeseran gunung-gunung yang ada di Malang. Gunung-gunung tersebut bergeser ke arah utara dan timur.
Tim Ekspedisi Malang Purba yang digelar MalangTIMES dan FMIPA UB (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya) telah .mengungkap sejarah sains terbentuknya Kota Malang dan Batu pada edisi sebelumnya. Sejarah ini masih belum ditulis di literasi manapun. Dan pada edisi kali ini kami akan menguak misteri terbentuknya Kabupaten Malang, terutama kawasan yang ada di Kepanjen dan Malang Selatan.
Untuk menguak asal usul Kabupaten Malang, Tim Ekspedisi Malang Purba melakukan penelusuran di kawasan pebukitan di Sumbermanjing Wetan dan Dampit. Dari hasil penjelajahan tersebut kami menemukan banyak batuan karang dan batuan hitam yang berdampingan.
Dekan FMIPA UB Drs. Adi Susilo, M.Si., Ph.D menyatakan, batuan karang hanya terdapat di lautan. “Batuan karang di sini jumlahnya sangat banyak. Ini menandakan bahwa kawasan ini dulunya adalah lautan,” kata Adi sambil melihat batuan karang berukuran besar yang ada di kawasan pebukitan di Sumbermanjing Wetan.
Dia juga menunjukkan beberapa fosil ikan ataupun udang yang banyak bertebaran di kawasan itu. Batuan ini ada di darat bukan karena terbawa bencana alam seperti tsunami. Tapi daratan tersebut dulunya adalah memang lautan.
Uniknya lagi, di sekitar serakan batuan karang terdapat bebatuan hitam. Batu-batu hitam ini merupakan batuan vulkanik yang hanya terdapat di kawasan gunung berapi.
Berdasarkan temuan itu, dia menjelaskan, bisanya batuan karang dari laut bersanding dengan batuan vulkanik dikarenakan adanya satu sebab. Yakni di pebukitan itu dulunya adalah gunung api yang terdapat di dalam lautan. “Malang Selatan itu dulu adalah laut dan kawasan pebukitan ini dulunya adalah gunung api aktif, tapi sekarang sudah mati,” terang Adi.
Dibandingkan dengan Gunung Semeru, Bromo, Welirang, Arjuno, Kawi, dan Kelud yang baru berusia 5 juta tahun, usia gunung di Malang Selatan jauh lebih tua, yakni 19 juta tahun.
Untuk Sumbermanjing Wetan, daerah yang berupa lautan adalah mulai dari Desa Druju ke arah selatan. “Mulai Desa Druju ke selatan itu semua lautan,” imbuhnya.
Lantas, apa buktinya? Di daerah Desa Druju ke selatan banyak terdapat batu kapur atau gamping. Menurut Adi, apabila di suatu daerah terdapat gamping maka dulunya adalah laut yang kemudian mengalami pengangkatan. “Pokoknya yang ada batu kapur berarti dulu adalah laut,” tegasnya.
sumber : malangtimes







