Sosialisasi Pemahaman Demokrasi di SMAN 1 Pagak: Ajak Pelajar Kritis Terhadap Isu Terkini

DSC01315

PAGAK, KAB. MALANG — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Malang bersama civitas akademika dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan Sosialisasi Pemahaman Demokrasi Melalui Pendidikan Politik Bagi Pelajar. Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan edukasi politik bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak sebagai pemilih pemula.

Acara tersebut dilangsungkan di Aula Cakasana SMA Negeri 1 Pagak pada Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bakesbangpol Kabupaten Malang, Agus Widodo. Turut hadir jajaran staf Bakesbangpol dan para pengajar SMA Negeri 1 Pagak.

Sebelum sesi pembukaan resmi, acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Wawan Harjito, S.Pd. dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mewakili Kepala Sekolah, Drs. Prayogi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan manfaat besar bagi siswa dalam menyongsong pesta demokrasi. Dilanjutkan oleh Kepala Bakesbangpol Kab. Malang, Agus Widodo dimana dalam sambutannya menyampaikan,“Pilihlah perwakilan atau presiden yang menurut kalian baik.”

Foto-foto kegiatan sosialisasi

Memasuki sesi penyampaian materi, Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya, Juwita Hayyuning Prastiwi, membawakan materi bertajuk “Kekuatan Sosial Politik Pemuda”. Ia menegaskan kepada para pelajar bahwa seluruh aspek kehidupan, mulai dari harga beras, akses perkuliahan, hingga kebebasan beragama, sangat dipengaruhi oleh keputusan politik.

Merujuk pada UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Juwita menjelaskan bahwa kelompok pemuda berada pada rentang usia 16–30 tahun. Dalam pemaparannya, ia menyoroti berbagai isu krusial yang tengah dihadapi generasi muda saat ini, antara lain terkait pendidikan, ketersediaan lapangan pekerjaan, maraknya pernikahan anak, kesehatan umum dan seksual, isu kerusakan lingkungan, hingga permasalahan kesehatan mental (mental health). Ia juga menjabarkan konsep demokrasi yang selalu dinamis dan lekat dengan ketidakpastian.

Sementara itu, pemateri kedua, Dosen Universitas Negeri Malang Surya Desismansyah Eka Putra, memaparkan materi bertema “Pelajar dan Politik”. Surya membahas korelasi antara isu pornografi, politik, dan kemiskinan, serta menyoroti pentingnya peran pelajar dalam menyuarakan hak-hak demokrasi.

Dalam konteks demokrasi skala sekolah, Surya mengulas peran Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai sarana pendidikan politik internal. Ia juga memberikan kilas balik sejarah pasca-demonstrasi kenaikan harga buku pada kisaran tahun 1980-an, di mana kontrol terhadap OSIS sempat diperketat dan organisasi luar sekolah dianggap ilegal. Menutup pemaparannya, ia mengaitkan hakikat politik dengan esensi dasar pemikiran manusia yang teratur.

Antusiasme pelajar SMAN 1 Pagak terlihat jelas pada sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dan menyentuh isu-isu kritis terkini. Ahmad Kafi (Kelas XII-4) mempertanyakan realisasi janji 19 juta lapangan kerja, tingginya angka pengangguran Gen Z, serta stereotip bahwa Gen Z pilih-pilih pekerjaan. Menanggapi hal tersebut, Juwita H. Prastiwi menjelaskan bahwa memutus rantai kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena terikat erat dengan kebijakan politik, termasuk sistem perpajakan nasional yang belum merata.

Terkait tren #kaburajadulu yang disoroti oleh Aline (Kelas XII-6), pemateri menilai fenomena tersebut sebagai hal yang wajar. Menurutnya, migrasi atau berpindah tempat merupakan sifat alami manusia dalam beradaptasi dan tidak serta-merta mengancam rasa nasionalisme seseorang.

Isu kesehatan mental di dunia kerja turut diangkat oleh Fauzan (Kelas XII-5) yang menanyakan hambatan pengangguran pada remaja dengan masalah psikologis. Pemateri menekankan bahwa mengatasi hal ini membutuhkan proses dan komitmen. Mengingat dunia kerja pada dasarnya menuntut ketahanan mental, solusinya adalah dengan membangun konsistensi diri.

Lebih lanjut, fenomena judi online (judol) yang marak di masyarakat juga memicu pertanyaan kritis dari Puspita Eka Anindya (XII-1). Terkait hal ini, pemateri membantah anggapan bahwa judol sekadar pengalihan isu. Judol disebut bertindak sebagai mekanisme spekulasi pada masyarakat yang menyukai peluang untung-rugi dan telah menjadi kebiasaan atau perilaku berulang.

Sesi diskusi ditutup dengan pertanyaan tajam dari Maylasyafa Aulia Wasti (Kelas XII-3) mengenai penyelesaian kasus kekerasan seksual yang kerap diwarnai oleh victim blaming (menyalahkan korban) dan praktik menjodohkan korban dengan pelaku. Pemateri secara tegas menyatakan bahwa masalah ini berakar dari stereotip gender dan standar ganda di masyarakat. Pola pikir masyarakat harus diubah untuk lebih memojokkan pelaku kejahatan, alih-alih menyalahkan korban. Melalui penyelenggaraan sosialisasi ini, para pelajar di SMAN 1 Pagak diharapkan dapat menjadi pemilih pemula yang cerdas, memiliki daya kritis yang tinggi terhadap isu sosial politik, serta mampu berpartisipasi aktif dalam mewujudkan iklim demokrasi yang lebih baik di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *