Malang – Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkenalkan strategi inovatif, SMA Negeri 1 Pagak, Kabupaten Malang, menyelenggarakan workshop bertajuk “Implementasi Strategi Pembelajaran Deep Learning”. Acara ini merupakan wujud nyata dari tridarma perguruan tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen dari Universitas Negeri Malang (UM).
Tim dosen yang menjadi narasumber terdiri dari para akademisi ternama, yaitu Prof. Dr. Hari Wahyono, M.Pd., Dr. Triwahyu Hardaningrum, SE, M.Pd., Putra Hilmi Prayitno, M.Pd., Ph.D., dan Januar Kustiandi, SE, M.Pd., Ph.D.
Kegiatan yang berlangsung di auditorium sekolah ini dibuka secara langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Pagak, Iyut Meinarni, ST. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan antusiasme dan rasa terima kasih yang mendalam kepada tim dosen UM yang telah berkenan hadir. “Kami sangat berterima kasih atas kehadiran tim dari Universitas Negeri Malang. Ini adalah kesempatan berharga bagi kami untuk mendapatkan pencerahan dan wawasan baru terkait Deep Learning yang dapat kami terapkan dalam proses belajar mengajar,” lanjutnya.
Sesi inti workshop diisi dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. Hari Wahyono, M.Pd., yang akrab disapa Prof. Ayong. Dengan gaya penyampaian yang santai, diselingi humor-humor lucu dan kisah inspiratif, beliau berhasil memukau para guru yang hadir. Suasana menjadi begitu cair hingga durasi dua jam pemaparan materi terasa sangat singkat.

Dalam paparannya, Prof. Ayong menyederhanakan konsep guru yang menginspirasi sebagai High Brow Learning. “Dalam High Brow Learning, tujuan kita adalah membuat siswa merasa ‘tegun’ atau takjub dengan pembelajaran. Ini bisa dicapai dengan menciptakan suasana ruangan yang berbeda, memberikan perhatian yang sama kepada setiap siswa, dan yang terpenting, guru harus menunjukkan sifat yang humanis,” jelasnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Deep Learning, yang pada awalnya dikembangkan untuk kemajuan kecerdasan buatan (AI), kini prinsip-prinsipnya dapat diadaptasi dalam dunia pendidikan untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan interaktif. Nyariadi, seorang guru matematika, menyuarakan keprihatinannya mengenai ketergantungan siswa terhadap teknologi dan AI. Menanggapi hal ini, Prof. Ayong dengan lugas menjawab, “Kita tidak perlu risau dengan kemajuan teknologi. Justru tantangannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi tersebut secara bijaksana, misalnya untuk memecahkan permasalahan matematika yang relevan dalam kehidupan sehari-hari siswa.”
Pertanyaan menarik lainnya datang dari Sri Samiasih, guru Bahasa Inggris, yang menanyakan relevansi hafalan dalam pembelajaran naratif di mana siswa dituntut untuk tampil di depan kelas. Prof. Ayong menjelaskan bahwa dalam konteks pembelajaran bahasa, penguasaan vocabulary atau kosakata tetap menjadi fondasi. “Proses menghafal masih diperlukan, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan. Jika untuk penguasaan kosakata dasar hafalan itu efektif, maka tetap harus diberikan,” terangnya.
Kegiatan workshop diakhiri dengan harapan besar untuk kolaborasi di masa depan. Tim dosen Universitas Negeri Malang menyatakan kesiapannya untuk kembali memberikan pendampingan dan materi yang lebih mendalam jika dibutuhkan oleh pihak sekolah, sebagai komitmen berkelanjutan dalam memajukan pendidikan di daerah.







