Kanjuruhan: Menguak Misteri Kerajaan Tertua di Jawa Timur

candi-badut-kanjuruhan-malang-sman1-pagak

Candi Badut – sumber: netralnews.com

Pada suatu masa, jauh sebelum riuhnya kota Malang seperti yang kita kenal hari ini, berdiri sebuah kerajaan tua nan agung di kaki pegunungan Jawa Timur. Namanya Kerajaan Kanjuruhan — kerajaan bercorak Hindu yang tercatat sebagai salah satu kerajaan tertua di tanah Jawa, bahkan lebih dulu ada sebelum Majapahit bersinar.

Cerita ini bermula dari sebuah prasasti kuno yang ditemukan di daerah Dinoyo, tertulis dalam bahasa Sanskerta dan aksara Jawa Kuno. Prasasti itu, yang dikenal sebagai Prasasti Dinoyo, memuat kisah tentang seorang raja bijaksana bernama Gajayana.

Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang raja Kanjuruhan bernama Gajayana yang membangun sebuah bangunan suci untuk memuja Agastya dan mengganti arca lama dari kayu cendana yang telah rusak, dengan batu hitam.

Prasasti Dinoyo

Prasasti Dinoyo menyebutkan tahun kejadian yang ada dalam bentuk kronogram atau sengkala. Sengkala adalah suatu kalimat atau kumpulan kata yang menunjukkan suatu tahun tertentu.

Sengkala dalam Prasasti Dinoyo berbunyi Nayana Vayu Rase atau sama dengan angka 682 Saka (760 Masehi), bulan yang berbunyi Margasira, dan suklapakṣa yang berarti saat paruh terang atau bulan purnama.

Raja Gajayana: Pemimpin Bijak dari Timur

Raja Gajayana berkuasa selama 29 tahun (760-789). Gajayana beristrikan Dewi Setrawati, anak pribumi desa Kanjuruhan. Di desa itu Gajayana mendirikan istana dan sejak itu pusat pemerintahan pindah ke Kanjuruhan.

Gajayana memiliki putri bernama Satyadarmika yang menikah dengan dyah Sangkhara atau Rakai Panangkaran Sri Maharaja Tejahpurnapana Panangkarana, raja Mataram di Jawa Tengah (754-782). Dari pernikahan itu lahirlah dyah Panunggalan.

Rakai Panunggalan yang nama nobatnya Rakai Panunggalan Bhimaparakrama Linggapawitra Jawabhumandala berkuasa di bagian utara Jawa, yaitu di daerah Mamratipura (Medang) selama 18 tahun (782-800).

Mungkin raja inilah yang menyatukan Keling dengan Medang, sepeninggal Gajayana yang wafat tahun 789. Hal itu dilihat dari namanya Panunggalan, yang berarti ‘penyatuan’.

Raja Gajayana bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga dikenal penuh kasih dan kepekaan spiritual. Ia menggantikan tahta ayahandanya, Dewasingha, dan membawa Kanjuruhan menuju masa kejayaan. Di bawah pemerintahannya, rakyat hidup dalam damai, hukum ditegakkan, dan budaya berkembang pesat.

Namun bukan kekuatan militer yang membuat Gajayana dikenang sepanjang masa, melainkan cintanya pada agama dan kebudayaan. Ia dikenal sangat menghormati para pendeta dan membangun tempat-tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Salah satu peninggalannya adalah pembangunan arca dari batu hitam yang dianggap lebih suci, menggantikan batu biasa yang sebelumnya digunakan dalam pemujaan.

Kanjuruhan, Permata di Timur Jawa

Bayangkan sebuah kerajaan yang terletak di kaki gunung, dikelilingi hutan lebat, sungai jernih, dan ladang subur. Di sinilah pusat Kerajaan Kanjuruhan berdiri — diperkirakan di kawasan Dinoyo, Malang saat ini. Keberadaannya dibuktikan oleh peninggalan seperti Candi Badut, candi Hindu tertua di Jawa Timur, yang hingga kini masih bisa dikunjungi dan menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Budaya Kanjuruhan adalah perpaduan antara tradisi lokal dan pengaruh Hindu dari India. Ritual, seni ukir, dan arsitektur berkembang pesat, meninggalkan warisan yang tak ternilai. Dibawah pemerintahan Raja Gajayana, rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka.

Kemunduran Sang Kerajaan

Namun seperti banyak kisah kerajaan lain, kejayaan Kanjuruhan pun tak berlangsung abadi. Setelah masa pemerintahan Gajayana, kisah tentang Kanjuruhan mulai redup. Tidak ada catatan yang jelas tentang raja-raja setelahnya. Diduga, Kanjuruhan kemudian melebur atau ditaklukkan oleh kerajaan yang lebih besar seperti Mataram Kuno atau Kediri.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Meski secara politis kerajaan ini telah lama tiada, nama Kanjuruhan tetap hidup dalam ingatan masyarakat Malang. Nama itu diabadikan dalam berbagai tempat, seperti Stadion Kanjuruhan, nama-nama desa, bahkan dalam semangat kebanggaan budaya Arek Malang.

Kerajaan ini adalah pengingat bahwa jauh sebelum Indonesia berdiri, sudah ada peradaban yang maju, religius, dan menjunjung tinggi keadilan serta budaya.

Kisah yang Perlu Terus Diceritakan

Sejarah Kerajaan Kanjuruhan bukan hanya deretan nama dan tahun dalam buku pelajaran. Ia adalah kisah tentang manusia, tentang kebijaksanaan, dan tentang akar identitas kita sebagai bangsa.

Dan di suatu tempat di Malang, mungkin saja jejak-jejak Gajayana masih tersembunyi — menunggu untuk ditemukan kembali dan diceritakan kepada dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *