Tingkatkan Sinergi dan Adaptasi Era Disrupsi, Kombel “SMAPa Jaya” Hadirkan Kacabdin dan Psikolog

KOMBEL (1920 x 1080 piksel).jpg

PAGAK — Komunitas Belajar (Kombel) SMA Negeri 1 Pagak (SMAPa) menghadirkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang, Dwi Anggraeni, S.Pd., M.Pd., dan Praktisi sekaligus Akademisi Psikologi, Qori Fanani, M.Psi., sebagai narasumber utama dalam kegiatan bertajuk “SQUARE UP! Menyatukan Energi, Menjaga Sinergi (Harmoni, Peace and Wellbeing)”. Kegiatan yang bertujuan untuk menyelaraskan kesejahteraan psikologis dan kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan dalam menghadapi perubahan zaman ini dilaksanakan di Laboratorium Bahasa SMAN 1 Pagak pada Rabu (15/7/2026). Acara dibuka secara resmi oleh Kepala SMAN 1 Pagak, Rokhmawati Nur’aini, S.Sos., S.Pd., MM., yang menyambut antusias pelaksanaan program kombel guna meningkatkan kapasitas dan sinergi para pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah ini.

Memasuki sesi inti, Qori Fanani memaparkan materi mengenai “Work-Life Balance & Manajemen Energi Diri dalam Harmoni Kerja”. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya manajemen energi yang melampaui sekadar manajemen waktu. Energi tersebut terbagi menjadi empat sumber utama: energi fisik, emosional, mental, dan spiritual. Sesi ini dikemas secara sangat interaktif dengan melibatkan diskusi aktif peserta. Penyampaian materi yang diselingi gurauan membuat suasana tetap cair dan efektif meminimalisasi kebosanan, sehingga pesan terkait integrasi peran kehidupan dapat tersampaikan dengan optimal.

Pada sesi selanjutnya, Dwi Anggraeni mengambil alih forum dengan memberikan materi motivasi terkait tantangan pendidikan di era disrupsi. Ia memaparkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan saat ini dihadapkan pada perubahan zaman yang masif, meliputi disrupsi Kecerdasan Buatan (AI), Deep Learning, transisi menuju Revolusi Industri 5.0, pergeseran tuntutan profil lulusan, hingga perubahan karakter peserta didik. Di samping itu, dinamika dunia kerja yang berubah sangat cepat serta penyesuaian Kurikulum Nasional dan kebijakan baru juga menjadi sorotan. Perempuan energik ini menegaskan bahwa kompleksitas tuntutan tersebut sering kali bermuara pada penurunan motivasi pendidik. Untuk merespons tantangan tersebut, Dwi mendorong seluruh peserta untuk mulai membangun kesadaran diri yang kuat dan mencari makna sesungguhnya dalam setiap pekerjaan. “Penting bagi kita untuk menciptakan lingkungan kerja yang suportif serta menjaga komitmen untuk terus belajar dan berkembang,” tegasnya kepada para pendidik yang hadir.

Rangkaian kegiatan peningkatan kompetensi dan kesejahteraan mental pendidik dan tenaga kependidikan ini berjalan lancar hingga akhir acara, yang kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara seluruh peserta dan narasumber sebagai bentuk penjagaan sinergi.